Saturday, April 9, 2016

Ayah?

Sangat lama sekali kata ini tidak saya ucapkan. Sepertinya saya sudah lupa bagaimana rasanya memanggil seorang Ayah. Sakit, tapi ini adalah kehidupan yang harus saya syukuri.

Ingatan terakhir saya tentang sosok seorang Ayah adalah ketika saya masih di bangku sekolah dasar. Sudah lama sekali memang, tapi saya ingin, sosok inilah yang saya ingat jika saya memanggil Ayah. Saya tidak ingin merusak makna kata seorang Ayah dengan kejadian yang bisa menurunkan nilai kata sakral ini.

Ayah ketika saya kecil, beliau orang yang hangat, selalu mengajarkan saya untuk tidak takut menyampaikan hal yang ada di pikiran saya, tapi harus disampaikan dengan cara yang santun. Menyerah adalah kata yang beliau larang dalam kehidupan saya.

Masih teringat jelas dalam ingatan saya, ketika beliau menemani saya mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat Tahajud pertama saya. Ketika saya menjadi juara di suatu kompetisi, beliau adalah orang pertama yang memeluk saya dan mengatakan bahwa saya adalah siswa terbaik di matanya.

Dengan profesinya sebagai dokter hewan, sangat sering beliau mengajak saya berkeliling desa untuk mengobati sapi-sapi penduduk yang sedang sakit atau melahirkan, dan pada saat itu, menurut saya, beliau adalah laki-laki paling hebat di dunia.

Meskipun kebahagiaan ini sudah terjadi sangat lama, tapi saya akan selalu mengingatnya. Meskipun beliau telah menyakiti dan merusak makna kata Ayah dalam diri saya, tapi saya tetap akan mengingat kenangan masa kecil saya tentang sosok Ayah yang seharusnya. Beliau tetap Ayah saya, meskipun saya harus menunda untuk membahagiakan beliau karena saya masih memiliki kewajiban lain yang harus saya lakukan, membahagiakan mama dan adik saya karena Ayah saya sudah tidak bisa melakukannya lagi.

Meskipun beliau melupakan saya, mama, dan adik saya, beliau tetap Ayah saya. Hanya saja sekarang, beliau lebih memilih untuk berbahagia dengan orang lain, keluarga lain. Saya tidak bisa menjaga atau membahagiakannya, tapi saya berharap, keluarganya yang baru bisa.

Saya akan berusaha untuk tidak menangis karena sedih lagi setiap ada teman saya menceritakan betapa hebatnya Ayah mereka, karena saya juga pernah memiliki Ayah yang hebat.

Saya yakin, Allah punya rencana yang luar biasa istimewa untuk saya kelak. Saya sudah sangat bersyukur karena memiliki Ibu dan Adik yang sangat menyayangi saya, dan saya juga sangat menyayangi mereka.

Saya berharap, senyum di wajah saya tidak akan pernah hilang, karena senyum ini adalah tanda syukur saya kepada Allah, Amiin...