Senja mulai temaram. Banyaknya pedagang yang mulai menyesaki angkutan desa dengan keranjang kosong menandakan akhir hari akan segera tiba. Senyum merekah di wajah merupakan pertanda rasa lega dan bahagia. Setelah seharian berjuang melawan teriknya sang surya terbayar lunas dengan ringannya panggulan keranjang mereka. Sebenarnya pemandangan seperti ini tak asing lagi bagiku. Dulu, aku melewati hari bersama para pedagang itu.
Hiruk pikuk perempatan desa memang sempat membuat jalanan penuh, terhenti dan sedikit penat. Tapi hal ini tidak sebanding dengan parahnya kepenatan di Jakarta. Meskipun kaki terasa pegal setelah sekitar satu jam menginjak pedal gas, namun hati ini tetap tenang. Ramainya jalanan pasar yang terlihat dari balik kaca mobil seolah berubah menjadi sebuah lukisan, lukisan hidup yang seolah tak pernah kehabisan cerita untuk dinikmati. Jalan ini, pasar itu, semuanya tetap sama seperti dulu. Sama seperti ketika aku melewatinya beberapa tahun silam. Sebelum aku terlena oleh kemerlap ibu kota, di sinilah aku tinggal.
Jalannan yang terhenti semakin mengingatkan aku akan kenangan masa lalu. Aku melewati jalan ini, sama seperti sekarang, tapi tetap ada yang berbeda. Aku tidak lagi berdiri di pasar itu menunggu angkutan desa, mengenakan baju seragam sekolah yang dulu katanya adalah sekolah terbaik di desa ini, berdesakan dengan para pedagang yang saling bercanda dengan riangnya ketika mereka pulang dengan keranjang kosong. Aku yang sekarang sudah bisa menginjak sendiri kendaraan yang aku gunakan untuk pergi kemana-mana, tanpa harus mengantri dan berpanas-panasan.
Ku injak pedal gas perlahan ketika aku lihat ada celah jalan yang bisa aku lewati. Ini adalah kemajuan yang cukup lumayan setelah aku terdiam selama lebih dari satu jam. Tak lama, aku terperangkap lagi di pinggir jalan, terapit oleh tiga angkutan desa yang mencoba merayu penumpang agar mau menggunakan jasa mereka.
"Tok..tok..tok..", terdengar suara ketukan di kaca mobil sebelah kiri. Betapa terkejutnya aku. Siapa sangka orang pertama aku yang temui ketika aku menginjakkan kaki di desa ini setelah empat tahun merantau adalah dia. Sosok berbadan tegap, kulit agak hitam, rambut kelimis namun ketampanan dan garis wajah tegasnya sama seperti dulu. Sejenak beberapa kenangan singkat terlintas di pikiranku. Beberapa kenangan yang membuat dadaku berdegup dengan kencang. Ketukan di kaca mobil yang sedikit lebih kencang menyadarkanku bahwa sekarang aku bukan bermimpi. Aku benar-benar bertemu dengan dia. Kutarik nafas agak dalam, kutegapkan posisi dudukku, kutekan tombol pembuka kaca otomatis di samping kananku, kaca terbuka. Sekarang aku melihatnya tanpa ada kaca sebagai penghalang.
"Ternyata benar itu kamu Sari. Aku lihat kamu dari jauh, penasaran, makanya aku sapa", suara itu memulai percakapan pertama kami setelah bertahun-tahun lamanya.
"Oh iya mas. Ini Sari. Apa kabar mas?", terasa sekali kalau suaraku bergetar hanya untuk mengucapkan dua kalimat sapaan itu. Aku tidak tahu apakah dia menyadarinya atau tidak.
"Baik. Sudah lama ndak ketemu. Kamu banyak berubah Sari, tambah cantik", aku merasa gemuruh di dadaku semakin kencang. Entah karena pujian itu atau karena tatapan matanya yang masih setajam dulu. Gemuruh ini berusaha aku redam sekuat tenagaku. Aku tidak ingin dia tahu.
"Mas Nomo bisa saja. Baru pulang dari pasar mas?", lanjutku mengalihkan pembicaraan.
"Iya, tadi habis nganterkan ibu belanja di pasar. Sudah banyak yang tutup, tapi lumayan ini bawaannya", kulihat tangannya penuh dengan tas plastik berisi aneka sayur dan ikan.
"Ibu ada itu, di tokonya Pak Naim, masih beli telur. Kamu mau ketemu Ibu?", kulihat ada wanita paruh baya memakai kebaya khas Jawa sedang membuka dompet kulit tuanya di toko sebelah mobilku. Sepertinya beliau sedang membayar sekeresek besar telur ayam. "Hmmmm... mereka bersiap untuk acara itu", gumanku dalam hati.
"Ndak usah mas. Nanti saja aku main ke rumah sekalian nyapa Ibuk". Aku belum siap bertemu dengan beliau. Keramahannya selalu bisa mencairkan air mataku, membuatku menyesal dengan keputusanku dulu.
"Tiiin..tiiin...", seuara klakson angkot di belakang mobilku menjadi alaram bahwa percakapan kami harus segera dihentikan.
"Mas, Sari jalan dulu ya? Maaf belum bisa ketemu Ibu sekarang. Nanti Sari main sendiri ke rumah Mas Nomo", ucapku cepat sambil menutup kaca jendela mobilku, kutancap pedal gasku. Aku sengaja tidak menunggu jawaban darinya. Karena Ibu sudah semakin dekat dengan kami dan ankot di belakang sudah tidak sabar untuk menggaet penumpang selanjutnya. Ada sedikit perasaan bersalah dan sungkan dalam hatiku, karena mungkin Ibu sudah melihatku tadi sekilas. Tapi aku benar-benar belum siap bertemu dengan Ibu. Nanti, pasti aku akan menemui beliau.
Jalanan sudah mulai sedikit renggang. Aku bisa dengan santainya memacu mobilku. Kubuka kaca jendela, kubiarkan wajahku dibelai lembut oleh udara senja pegunungan yang sudah lama tidak aku rasakan. Pertemuan dengan Mas Nomo, mantan tunanganku tadi benar-benar membuat aku kaget. Kenangan kilat yang tadi sempat muncul di perempatan pasar kembali datang. Lima tahun lalu aku masih di sini. Tinggal di desa ini. Sampai hal itu terjadi.