Monday, May 27, 2013

"Jeleknya" A K U

Buatku, salah satu hal yang paling gak ngenakin adalah ketika orang lain sakit hati karena perkataan atau perbuatanku yang gak aku sengaja. Kalau sampai hal itu terjadi, aku jadi ngerasa bersalah and jahat banget sama dia. Selain tengkar, hasilnya pasti akan ada jarak antara aku sama orang yang aku sakitin itu. Meskipun aku udah minta maaf trus dia udah maafin, aku masih belum bisa maafin diriku sendiri yang udah nyakitin hati orang lain. Padahal gak ada niat sedikitpun di hati aku buat nyakitin dia. Apa lagi dia orang yang baik. Gak mau lagi deh ngerasain perasaan bersalah kayak gitu lagi. Gak enak banget deh kalau aku lagi ada di posisi itu.
T_T

Beda lagi kalau aku emang sengaja nyakitin mereka. Jahat banget ya aku? Hehehehe.... Biasanya aku lakuin hal ini kalau orang itu nyakitin aku duluan. Boleh dibilang aku itu kayak lebah. Lebah gak akan pernah nyerang manusia asalkan manusianya gak gangguin duluan. Bahkan, lebah bisa ngasih madunya yang sangat bermanfaat buat manusia. Tapi, kalau manusia udah mulai gangguin si lebah, pasti lebah bakalan nyengat tuh manusia. Kalau udah disengat, rasanya sakit kan?

Butuh waktu beberapa hari buat netralin rasa marah and mangkelku. Setelah semuanya berlalu trus aku udah gak emosi lagi, ya udah. Masalah selesai. Aku bakalan introspeksi diri dan sadar sama kesalahannku. Pasti aku akan minta maaf kok.

Simple deh punya masalah sama aku. Ada masalah, tengkar bentar, diem-dieman, habis itu aku bakalan minta maaf, saling memaafkan, trus udah deh, gak akan ada masalah lagi. :-)

Tapi aku bukan malaikat penyabar yang bakalan mohon-mohon maaf dari orang lain. Batas permintaan maafku cuma 3 kali. 3 kali minta maaf, aku itu bakalan tuluuuuuus banget deh. Bener-bener dari dalam hati. Tapi kalau udah sampai 3 kali orang yang aku mintain maaf masih kayak anak kecil (ngambek gak mau maafin), udah deh. Jangan harap aku bakalan minta maaf lagi ke dia sebelum dia minta maaf duluan ke aku. Itu jeleknya aku, sifat yang dari dulu susah banget aku ubah.

Sekarang ini lagi berjuan banget untuk menjadi pribadi yang lebih baik, gak gampang emosi, lebih pemaaf, lebih bisa njaga mulut and tindakan. Bismillah... Semoga kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik dari waktu ke waktu. Amiiiin....

Always try my best to be a better person. 

Saturday, May 25, 2013

Someone Out there

"If you love someone, a half of your soul will be with him. And if he leave you, a half of your soul will leave you too. That's why, be careful with someone that you love. You have to make sure that he is the right man for you. Before it's being too late and it gonna hurt you."

There is a hole in my heart
I don't know what I want
to cover this hole
Just feel empty
And it hurts sometimes

I need someone
But I don't know who
When will he come?
But I don't know when

Someone out there
Can you hear my heart's voice?
It's screaming, calling you
It's missing you so much

I don't need someone perfect
I just need someone
who can hold me in his arm
I can feel his warm
Feel safe
Until I close my eyes forever


Thursday, May 23, 2013

Maudy Ayunda - Tahu Diri

Sampai jam 8 malem ini, aku masih di kantor. Sibuk ngerjain kerjaan sambil nunggu hal yang seharusnya gak penting. But I have to always smile...
 ^_^

Iseng-iseng, buka Youtube, aku jadi inget sama video clip satu ini. Video clipnya unik banget. Gak ada model cantik/cakep, cuma barisan lirik yang disampaikan secara unik. Ost salah satu film terkenal di Indonesia, Perahu Kertas.

I want to share this video with you. Konsepnya simple, tapi hasilnya bisa jadi wah. Ini salah satu bukti kalau sesuatu yang simple itu gak selalu nilainya setengah. :-)

Enjoy this,,,
^_^



Kehilangan Jati Diri

Pernah gak sih kalian ngalamin perasaan gak puas sama diri sendiri? Trus waktu ngelihat orang lain bisa enjoy sama kehidupan mereka, kalian jadi pengen kayak orang itu? Trus jadinya, kalian bakalan ngikutin semua yang orang itu lakuin, mulai dari cara berpakaiannya, musik apa yang dia suka, game apa yang dia suka, perilakunya, bahkan sampai cara ngomongnya!

Kalau pernah, how lucky you are... Kenapa aku bilang kalian lucky? Soalnya kalau kalian udah pernah ngalamin masa itu, itu tandanya kalian bakalan bisa ngenalin diri kalian sendiri. Kenapa aku bisa begitu yakin? Karena aku pernah ngalamin itu, dan I know who I am now, not who am I!

Dulu aku pernah ngerasa gak bersyukur atas apa yang udah aku dapetin. Aku selalu nyoba buat ngebandingin aku sama temen-temenku. Ngelakuin segala hal buat ngerebut perhatian mereka. Aku jadi suka niru-niru temenku yang keliatan asik orangnya dan punya banyak temen. Meskipun aku ngerasa gak cocok sama kebiasaan dia, aku tetep "nyontoh" apa yang dia lakuin. 

Sampai akhirnya aku jadi capek sendiri. Aku ngerasa "ini bukan aku!". Aku gak tahu siapa aku ini, lagu apa sih yang aku suka, kepribadianku ini kayak gimana sih aslinya? Aku muak sama diriku yang gak bisa jadi dirinya sendiri. Aku pernah ngalamin itu semua.

Muncul sikap berontak ke diriku sendiri. Aku mulai ngebuka mataku. Aku mulai ngamatin keadaan di sekitarku. Keadaan yang nyata, bukan dunia mimpi yang coba aku ciptain dengan cara "njiplak" kepribadian orang lain. Sulit memang awalnya. Banyak temenku yang mulai gak suka sama perubahanku. Mereka nganggap aku bukan Diptia, tapi orang lain. Padahal sebenernya, inilah aku yang asli, bukan hasil copy paste.

Kondisi itu sulit banget. Aku harus kehilangan temen yang gak bisa nerima perubahanku. Sampai-sampai, aku hampir aja gak bisa nerima diriku sendiri. hahahahaha.... Akhirnya aku sadar, mereka yang gak bisa nerima aku apa adanya bukan temen yang baik. Memang, dengan perubahan yang aku lakuin, aku kehilangan banyak temen. Tapi, aku juga masih punya, bahkan dapet temen-temen baru yang lebih jujur dan terbukan buat nerima aku. :-)

Akhir-akhir ini, aku ngerasa terganggu sama temenku yang sedikit demi sedikit dia mulai niru semua kebiasaan dan kesukaanku. Sikapnya jadi berubah childish kayak aku, cara ngomongnya udah hampir aku banget, bahkan, dia mulai ndengerin musik yang aku suka. Padahal sebelumnya dia gak kayak gitu! Dimataku, dia jadi aneh dan bikin aku males deket-deket dia.

Tapi makasih banget buat temenku yang satu ini, aku jadi pengen mbagi pengalamnku di tulisan ini. Karena dia, aku jadi ngerti betapa annoying-nya aku dulu waktu nyoba niru semua kebiasaan temenku. Hahahaha...  :-)

Sekarang, aku tahu siapa aku. Aku mulai nge-evaluasi diriku sendiri. Setiap kejadian yang aku alami, aku selalu nyoba buat nyari apa yang salah dalam diriku. Kalau udah nemu, aku bakalan nyoba buat memperbaiki itu. 

It's easier for me to be a better person if I know who I am.

Tuesday, May 21, 2013

Kisahku (Part Two)

"Maafkan aku Sari. Aku tidak pernah menyangka kalau rasa sayangku padamu akan hilang dan berganti padanya". Satu kalimat yang bisa menghancurkan semua harapan indahku. Memberikanku rasa sakit yang tidak bisa aku tahan. Aku hanya terdiam, hanya air mata yang terurai sebagai pelampiasan rasa perih yang terlalu.

Malam minggu, seharusnya saat itu adalah waktu bagi aku dan dia untuk berbagi kasih. Tapi semuanya berubah. Dia lebih memilih Nina, sepupu jauhku. Dan aku tidak pernah menyangka dia akan tega mengatakan kalimat terkutuk kedua yang semakin hancur. Harapannya yang benar-benar menghancurkan semuanya.

"Aku tidak berani mengatakannya pada orang tua kita. Aku berniat untuk menikah dengan Nina. Jika aku yang membatalkan pertunangan kita, impianku akan pupus bersama Nina. Bisakah kau yang menyampaikannya?". Ya Tuhan, seperti inikah laki-laki yang selama ini aku cintai? Seperti inikah laki-laki yang nantinya akan kujadikan imam?

Tidak cukup dia mengkhianatiku, sekarang dia ingin aku menanggung semuanya sendiri, dipersalahkan atas hal yang tidak aku inginkan. Tangisku semakin kencang. Tangisku berubah dari tangis kepedihan atas pengkhianatan menjadi tangis marah karena kebodohanku. Betapa bodohnya aku karena telah mencintai laki-laki pengecut seperti dia. Ditengah amarah dan perih, ada sedikit rasa syukur yang terbersit. Untung aku mengetahuinya sekarang, bukan nanti ketika aku telah menjadi pendamping hidupnya.

"Tidak ada yang bisa aku katakan. Kamu yang memulai masalah ini, jadi harus kamu yang menyelesaikannya", ucapku tergetar sambil membukakan pintu rumah, menandakan aku menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku.

Perlahan dia beranjak dari sofa ruang tamuku. Dengan langkah lunglai dia pergi meninggalkan aku dalam tangis temaram. Sedikitpun dia tidak menoleh ke belakang. Namun sekilas aku melihat air mata turun di pelipih matanya. Aku tak tau apa arti dari air mata itu. Kebodohanku, aku berharap air mata itu adalah air mata penyesalan karena telah menyakiti orang yang dia kasih selama enam tahun terakhir.

Malam itu menjadi malam terakhir aku dan dia bersama sebagai seorang kekasih. Dia lebih memilih kekasih yang lain. Tak ada yang dapat aku lakukan. Aku tidak ingin menghancurkan harga diriku dengan mengemis cinta padanya. Harga diriku terlalu mahal jika dibandingkan dengan pertunangan yang sudah ternoda oleh pengkhianatan.

Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Mas Nomo. Seperti biasa, ibu Mas Nomo menyambutku dengan peluk keramahan. Ketika melihat beliau, aku tidak tega untuk menyampaikan berita buruk ini. Tapi keras kepalaku menghilangkan naluriku. Aku harus menyampaikannya sekarang. Kalau aku tunda, semakin banyak ragu yang aku rasakan.

Senyum tulus di wajah senjanya berubah jadi tangis kekecewaan setelah aku sampaikan maksud kedatangannku ke rumah itu. Dengan alasan akan mencoba karir baru di ibu kota, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Mas Nomo. Tindakanku ini aku lakukan bukan karena aku masih mengharapkan belas kasihan dari Mas Nomo dengan mengikuti apa yang dia mau. Aku hanya tidak ingin dianggap sebagai sosok antagonis ketiga di antara hubungan kasihnya dengan Nina. Aku adalah tokoh utama dalam kisah hidupku sendiri, bukan hidup mereka. Ini lebih baik daripada dianggap orang sebagai wanita lemah karena telah dikhianati oleh calon suami dan sepupuku.

Di balik tirai ruang tamu, aku bisa melihat sosok Mas Nomo. Sosok itu tak lagi menarik bagiku. Sosok itu berubah menjadi banci yang tidak tahu malu.Sekarang, dia hanya akan menajadi kenangan buruk di buku kehidupanku.

Kualihkan pandanganku pada Ibu. Beliau masih menangis. Kupeluk dan kuusap airmatanya. Berat bagiku untuk menyakiti hati wanita tua ini. Dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Namun karena keegoisanku dan kebodohan Mas Nomo, kami membuatnya menangis. Sejenak aku berpikir, setelah aku keluar dari rumah ini nanti, apa masih bisa aku menampakkan wajahku di hadapan beliau. Aku akan menjadi terlalu malu untuk menatap mata Ibu.

Keberangkatanku ke ibu kota benar-benar menjadi tanda bagi keluargaku dan Mas Nomo bahwa pertunangan kami benar-benar berakhir. Saat di ibu kota nanti, aku ingin melupakan semuanya. Aku tidak akan peduli lagi dengan mereka. Aku hanya akan fokus meniti karirku.

Aku bukan Diptia yang Dulu

Kamu tahu, aku sekarang sudah bukan Diptia yang dulu. Aku sudah berbeda. Aku yang sekarang lebih tegar dan bisa tersenyum saat masalah datang. Bukan lagi Diptia yang lemah dan hanya terdiam, tanpa melakukan apa-apa saat diuji oleh Yang Maha Kuasa.

Dulu, ketika dua orang yang aku sayangi pergi, orang yang aku anggap bisa menjadi payungku di kala hujan pergi, aku hanya bisa menangis. Mereka pergi disaat yang sama. Sampai sekarang, aku masih ingat lukanya. Tapi hanya sekedar ingat. Kenangan pahit itu cukup untuk menjadi bumbu penyemangatku sekarang ketika aku akan menghadapi masalah baru. Terima kasih kepada dua orang itu, karena mereka, aku bisa menjadi Diptia yang sekarang.

Ketika cobaan datang, dan aku sudah mulai menangis, dalam hati aku akan mengatakan "Tidak apa-apa Diptia. Kau dulu bisa mengatasi masalah yang lebih sulit dari ini. Masalah ini bukan apa-apa. Kau masih bisa hidup!". Mantra ini sangat ampuh. Seketika air mataku terhenti, dan aku bisa tersenyum lagi. :-)

Mungkin memang aku akan selalu menitikkan air mata, mungkin aku akan selalu dikenang oleh orang sebagai Diptia childish dan cengeng. Dibalik image Diptia itu, ada Diptia lain yang harus bisa lebih tegar, lebih lapang dada, dan lebih kuat.

Tapi, ada satu harapan yang aku inginkan. Aku tidak ingin hatiku menjadi batu. Batu yang sangat keras. Karena kalau hatiku menjadi terlalu keras, aku tidak akan bisa merasakan apa itu namanya "Kasih Sayang" dan "Cinta" lagi.

^_^

Wednesday, May 15, 2013

Kisahku (Part One)

Senja mulai temaram. Banyaknya pedagang yang mulai menyesaki angkutan desa dengan keranjang kosong menandakan akhir hari akan segera tiba. Senyum merekah di wajah merupakan pertanda rasa lega dan bahagia. Setelah seharian berjuang melawan teriknya sang surya terbayar lunas dengan ringannya panggulan keranjang mereka. Sebenarnya pemandangan seperti ini tak asing lagi bagiku. Dulu, aku melewati hari bersama para pedagang itu.

Hiruk pikuk perempatan desa memang sempat membuat jalanan penuh, terhenti dan sedikit penat. Tapi hal ini tidak sebanding dengan parahnya kepenatan di Jakarta. Meskipun kaki terasa pegal setelah sekitar satu jam menginjak pedal gas, namun hati ini tetap tenang. Ramainya jalanan pasar yang terlihat dari balik kaca mobil seolah berubah menjadi sebuah lukisan, lukisan hidup yang seolah tak pernah kehabisan cerita untuk dinikmati. Jalan ini, pasar itu, semuanya tetap sama seperti dulu. Sama seperti ketika aku melewatinya beberapa tahun silam. Sebelum aku terlena oleh kemerlap ibu kota, di sinilah aku tinggal.

Jalannan yang terhenti semakin mengingatkan aku akan kenangan masa lalu. Aku melewati jalan ini, sama seperti sekarang, tapi tetap ada yang berbeda. Aku tidak lagi berdiri di pasar itu menunggu angkutan desa, mengenakan baju seragam sekolah yang dulu katanya adalah sekolah terbaik di desa ini, berdesakan dengan para pedagang yang saling bercanda dengan riangnya ketika mereka pulang dengan keranjang kosong. Aku yang sekarang sudah bisa menginjak sendiri kendaraan yang aku gunakan untuk pergi kemana-mana, tanpa harus mengantri dan berpanas-panasan.

Ku injak pedal gas perlahan ketika aku lihat ada celah jalan yang bisa aku lewati. Ini adalah kemajuan yang cukup lumayan setelah aku terdiam selama lebih dari satu jam. Tak lama, aku terperangkap lagi di pinggir jalan, terapit oleh tiga angkutan desa yang mencoba merayu penumpang agar mau menggunakan jasa mereka.

"Tok..tok..tok..", terdengar suara ketukan di kaca mobil sebelah kiri. Betapa terkejutnya aku. Siapa sangka orang pertama aku yang temui ketika aku menginjakkan kaki di desa ini setelah empat tahun merantau adalah dia. Sosok berbadan tegap, kulit agak hitam, rambut kelimis namun ketampanan dan garis wajah tegasnya sama seperti dulu. Sejenak beberapa kenangan singkat terlintas di pikiranku. Beberapa kenangan yang membuat dadaku berdegup dengan kencang. Ketukan di kaca mobil yang sedikit lebih kencang menyadarkanku bahwa sekarang aku bukan bermimpi. Aku benar-benar bertemu dengan dia. Kutarik nafas agak dalam, kutegapkan posisi dudukku, kutekan tombol pembuka kaca otomatis di samping kananku, kaca terbuka. Sekarang aku melihatnya tanpa ada kaca sebagai penghalang.

"Ternyata benar itu kamu Sari. Aku lihat kamu dari jauh, penasaran, makanya aku sapa", suara itu memulai percakapan pertama kami setelah bertahun-tahun lamanya.

"Oh iya mas. Ini Sari. Apa kabar mas?", terasa sekali kalau suaraku bergetar hanya untuk mengucapkan dua kalimat sapaan itu. Aku tidak tahu apakah dia menyadarinya atau tidak.

"Baik. Sudah lama ndak ketemu. Kamu banyak berubah Sari, tambah cantik", aku merasa gemuruh di dadaku semakin kencang. Entah karena pujian itu atau karena tatapan matanya yang masih setajam dulu. Gemuruh ini berusaha aku redam sekuat tenagaku. Aku tidak ingin dia tahu.

"Mas Nomo bisa saja. Baru pulang dari pasar mas?", lanjutku mengalihkan pembicaraan.

"Iya, tadi habis nganterkan ibu belanja di pasar. Sudah banyak yang tutup, tapi lumayan ini bawaannya", kulihat tangannya penuh dengan tas plastik berisi aneka sayur dan ikan.

"Ibu ada itu, di tokonya Pak Naim, masih beli telur. Kamu mau ketemu Ibu?", kulihat ada wanita paruh baya memakai kebaya khas Jawa sedang membuka dompet kulit tuanya di toko sebelah mobilku. Sepertinya beliau sedang membayar sekeresek besar telur ayam. "Hmmmm... mereka bersiap untuk acara itu", gumanku dalam hati.

"Ndak usah mas. Nanti saja aku main ke rumah sekalian nyapa Ibuk". Aku belum siap bertemu dengan beliau. Keramahannya selalu bisa mencairkan air mataku, membuatku menyesal dengan keputusanku dulu.

"Tiiin..tiiin...", seuara klakson angkot di belakang mobilku menjadi alaram bahwa percakapan kami harus segera dihentikan.

"Mas, Sari jalan dulu ya? Maaf belum bisa ketemu Ibu sekarang. Nanti Sari main sendiri ke rumah Mas Nomo", ucapku cepat sambil menutup kaca jendela mobilku, kutancap pedal gasku. Aku sengaja tidak menunggu jawaban darinya. Karena Ibu sudah semakin dekat dengan kami dan ankot di belakang sudah tidak sabar untuk menggaet penumpang selanjutnya. Ada sedikit perasaan bersalah dan sungkan dalam hatiku, karena mungkin Ibu sudah melihatku tadi sekilas. Tapi aku benar-benar belum siap bertemu dengan Ibu. Nanti, pasti aku akan menemui beliau.

Jalanan sudah mulai sedikit renggang. Aku bisa dengan santainya memacu mobilku. Kubuka kaca jendela, kubiarkan wajahku dibelai lembut oleh udara senja pegunungan yang sudah lama tidak aku rasakan. Pertemuan dengan Mas Nomo, mantan tunanganku tadi benar-benar membuat aku kaget. Kenangan kilat yang tadi sempat muncul di perempatan pasar kembali datang. Lima tahun lalu aku masih di sini. Tinggal di desa ini. Sampai hal itu terjadi.

Wednesday, May 8, 2013

Uwe...

Hi all...

Kali ini, aku mau ngenalin sahabat karib sejati tiada duanya di hati sampai mati dan selalu bersama hingga nenek-nenek dan di surga... (amiiiin)... Sohibku yang satu ini namanya Dwi Darmi Sa'diyahti, nama yang indah, tapi aku panggilnya Uwe..... hehehehe... Inget ya, namanya tuh ada tanda ' nya, soalnya dia bakalan sedih kalo tanda itu ilang.... ;-)

Dia itu sahabat paling paling baik yang pernah aku kenal. Kita sahabatan udah lebih dari 7 tahun...!!!! Udah lama banget ya berarti... ^_^ Aku aja baru nyadar pas ngitung waktu mau nulis tulisan ini... hehehehe....

Kita pertama kali ketemu pas hari ke-1 MOS (Masa Orientasi Siswa) di high school. Waktu itu kita masih imut-imut banget, baru lulus junior high gitu loooh... Inget banget, ketemunya di deket lapangan basket. Karena aku satu-satunya siswa dari junior high ku yang masuk ke high school itu, jadinya aku gak punya temen sama sekali.

Celingukan kayak orang ilang, aku jalan lah sendirian di lorong sekolah. Eh, gak taunya ada anak ilang lagi satu yang duduk di bangku deket lapangan basket. Karena ngerasa senasib dan sepenanggungan, nyoba aja aku kenalan sama dia. Pertama kali ketemu, aku punya pendapat kayaknya anak ini pendiem banget, kalem gitu, pakai jilbab. Tapi ternyata, ya ampyuuuun... Anaknya tuh petiklangan gak ada habisnya, super cerewet, gak ada diemnya, dan yang lebih penting, gokilnya tuh gak ada matinya...!!!

by : dipu
Dari situ pertemanan kami dimulai. Kita bukan cuma sekedar kenalan, tapi akhirnya jadi 1 kelas di TI-3, pas MOS jadi satu gugus (gugus Keyboard). Tapi sayangnya setelah 3 bulan sekelas, kita pisah kelas, dia masuk Multimedia, aku Jaringan. Tapi kita tetep temenan.

Emang udah nasib terus sama Uwe, kita diketemuin lagi di lomba debat bahasa Inggris, dan kita satu tim selama 2 tahun. Di tim ini kita latihan bareng, seneng bareng, menang and kalah bareng, nangis and ketawa bareng, pokoknya banyak banget deh ceritanya. Bukan cuma di tim debat bahasa Inggris aja, di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), lomba UKS (Unit Kesehatan Sekolah), pokoknya banyak deh yang kita lewatin bareng-bareng.

Pas udah lulus high school, ternyata kita satu kampus lagi...!!! Ya ampyun... Kita satu kosan, kita satu tim debat bahasa Inggris (Pernah menang lomba debat nasional juara 2 lhow...), sama-sama aktif di organisasi kampus, sama-sama pemandu, sampai kita sama-sama satu klub di ENT (kayak klub jurnalistik gitu). Oh ya, aku lupa, pas Ospek, kita juga satu kelompok...!! OMG...!!!

Dan sekarang...!!! Kita satu perusahaan...!!! Apa-apaan ini...!!! Hahahahaha.....

Pokoknya dia itu sahabat yang selalu ada di saat-saat terberat dalam hidupku. Kalau gak ada dia, gak tau deh aku sekarang udah jadi apa... :-)

Cuma nasehat-nasehatnya Uwe yang bisa bikin aku tenang. Langsung nancep gitu di ati. "Jangan lupa berdo'a, inget sama Allah", itu kata-kata yang selalu diucapin Uwe ke aku. Mamaku aja nih, kalau aku bilang "Lagi sama Uwe", langsung deh mamaku tenang. Percaya banget deh Mamaku sama Uwe... ^_^ aku juga sih... ;-)

Thank you ya Uwe... 
Thank you for being my best friend...
Thank you for your support...
Thank you for accompanying me...
Thank you for your kindess...
Thank you for all suggestions...
Thank you for everything...


Tuesday, May 7, 2013

Galau

Galau...

Kata satu ini identik banget sama yang namanya ABG (Anak Baru Gede). Gak tau deh siapa yang pertama kali nyiptain nih kata, kalau identitasnya diketahui publik, pasti nih orang udah jadi ikutan booming kayak kata ciptaannya. :-)

Galau tuh perasaan gak pasti, ragu, bingung, sulit nentuin pilihan. Contohnya nih, meskipun terkadang kita tahu itu pilihan yang terbaik, tapi ketika kita melihat hal lain yang lebih menarik, jadi Galau lagi mau pilih yang lain.

by : dipu

Sebenernya, galau itu bukan cuma buat ABG aja lhow, buat kita-kita yang udh jadi alumni ABG juga ada, bahkan eyangnya ABG juga pernah Galau. Tapi, karena yang biasanya makek kata Galau itu si krucil-krucil berbaju putih abu-abu, jadinya kata Galau seolah di-hak paten-kan jadi milik mereka. :-)

Banyak hal yang nyebabin kita jadi galau, contohnya masalah keluarga, teman, sekolah, kerjaan, tetangga (nah loh, emang iya alasannya satu ini? :-p ), dan yang paling sering nih, masalah C I N T A. Ngaku deh siapa yang gak pernah galau karena cinta? (Kalau gak pernah, kasian banget sih luuu...)

 Kalau kita udah terkena penyakit yang namanya galau, biasanya kita jadi males mau ngapa-ngapain. Males makan, minum, belajar, kerja, nongkrong, bahakan ngomong aja udah males. So, we have to be patient with this disease!

Based on my experience (cieee... ketahuan kalau sering banget galau), ada 3 cara buat ngilangin galau. Yaitu....
  • Curhat
by : dipu
Biasanya nih, kita jadi galau karena ada masalah sama seseorang atau sesuatu. Kalau masalah kita pendem sendirian, bakalan tambah susah deh kita sembuh dari Galau. Enaknya nih, kita cerita sama orang yang kira-kira bisa diajakin berbagi. Meskipun terkadang dia gak bisa ngasih solusi, at least dia udah ngedengerin keluh kisah kita and persasaan kita jadi lega. Lebih baik lagi kalau kita curhat sama sumber masalah, dengan kata lain, kita omongin masalah sama sumber galau (orang yang nyebabin kita galau). Soalnya menurutku, komunikasi yang baik akan memperkecil kemungkinan terjadinya Galau. ^_^

  •   Cari kesibukan
by : dipu

Galau dibarengin sama bengong, ngurung diri di kamar, gak mau makan and minum, parah! Jangan harap sembuh dari galau deh kalau kayak gitu. Semakin kita sendiri, semakin kita terlarut dalam kegalauan (ceileh, bahasaku). Enaknya tuh nyari kesibukan, tapi inget ya, kesibukannya tuh yang positf. Contohnya nih ikut ekskul, olah raga, kerja part time, ikut organisasi, ikut bakti sosial, ikut kerja bakti, pokoknya apa aja yang positif. Dijamin deh, semakin banyak kesibukan yang kita ambil, semakin kecil waktu kita buat bergalau-galau ria, trus semakin cepat kita lupa sama kegalauan. (tapi tetep, masalah bikin galaunya harus diomongin).

  • Refreshing
by : dipu
 Ini salah satu cara favoritku. Jalan-jalan! Paling enak kalau kita lagi galau tuh, kita jalan-jalan. Ke mall, belanja, nongkrong sama temen di kafe. Tapi kalau aku sih sukanya wisata alam. Ke pantai, ke gunung. Buat kalian yang rumahnya gak deket sama pantai atau gunung, trus gak punya ongkos mau ke sana, bisa aja jalan di taman, trus diem sambil nikmatin pemandangan. Kalau di taman itu enaknya pas malam hari, soalnya suasana tenang, jadi kita bisa rileks.

That's all, my tips! Semoga bisa bermanfaat, trus berkurang deh tuh galau-galau di dunia ini. ^_^

Happy day all...


Thursday, May 2, 2013

Hari Pendidikan Nasional

Selamat Hari Pendidikan Nasional....!!!

Semoga Pendidikan di Indonesia jadi lebih maju lagi...!!!
Gak ada lagi anak-anak yang gak bisa sekolah karena gak punya biaya...!!!
Guru-guru lebih tulus and lebih semangat lagi buat ngajar...!!!
Generasi penerus bangsa bisa menunaikan tugasnya untuk membuat Indonesia jadi lebih baik...!!!


by : dipu

Cita-citaku...

Seperti biasa, hari ini aku berangkat kerja jam 8 lebih 1/4 dengan jalan kaki dari kosanku. First... nothing special. Tapi ketika aku baru buka pagar kosan, ada yang beda sama hari ini. Tumben-tumbenan jalan depan kosan ramai banget sama anak TK yang pada pakai baju adat daerah, trus mereka konvoi keliling komplek. Gak jauh sih konvoinya, tapi tawa mereka itu lhow, tulus and happy banget...

Hmm... Aku jadi mikir, ada apa ya...? Owh... mungkin mereka lagi meringatin Hari Kartini ato kalau gak Hari Pendidikan Nasional... (soalnya pas aku TK juga pakai baju adat gitu, trus karnaval deh keliling kampung). Meskipun agak macet (ceileee macet, padahal jalan kaki doang), tapi enjoy banget ikutan konvoi ma anak-anak TK itu di belakang. Serasa muda lagi... xixixxi...

source : http://garungkecamatan.blogspot.com/2011/04/karnaval
Habis liat anak TK karnaval, jadi inget waktu kecil dulu, sama Bu Guru sering ditanya tuh, "Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?", trus kita pada rebutan jawab, pada tunjuk tangan sambil teriak-teriak semangat "Saya Bu Guru! Saya Bu Guru!". Kayak baru kemarin deh pengalaman itu.

Banyak banget jawaban yang kita pilih. Ada yang bilang pengen jadi dokter, pilot, masinis, ada yang lebih wah lagi, jadi PRESIDEN! Waktu itu kita pilih aja mau kita apa, terserah hati kita lagi kemana pengennya, jadi macem-macem deh cita-citanya. Bahkan aku aja gak inget udh ganti berapa kali nih cita-cita. xixixixi...

source : http://ratnaninuneno.blogspot.com/2013/01/harapan-dan-cita-cita.html


Tapi begitu kita udah gede, trus kita udah ngelewatin berbagai macam masalah, pekerjaan yang kita pilih, hidup yang kita lalui, apa yang kita raih, terkadang semua itu gak sesuai sama cita-cita kita. Kondisi dan kesempatan yang memaksa jadi apa kita nanti, bukan apa yang kita mau lagi. Cita-cita ya tinggal kenangan... T_T

Realistis aja. Mungkin cuma sekian persen dari semua anak-anak TK jamanku dulu yang jadi "Orang" sesuai ama cita-cita mereka pas kecil. Lainnya, menempuh kehidupan sendiri-sendiri. Termasuk aku.

Pas TK, aku pengen jadi Pilot, mikirnya dulu "keren kali ya jadi pilot cewek, kan pilot kebanyakan cowok". Trus pas SD, lagi pelajaran IPS-Sejarah, pengen jadi arkeolog, soalnya bisa berpetualang nyari puing-puing saksi bisu kehidupan jaman "mbahulak". Udh agak gedean dikit (sekitar SMP) pengen jadi Perawat. Cita-cita terakhir, malah pengen jadi Bos (alias bikin usaha sendiri). Hahahaha... Banyak banget maunya.

Dari semua cita-citaku itu, gak ada satupun yang kesampaian. Sekarang malah ujung-ujungnya kerja kantoran di Ibu Kota. Tapi niiih... harapannya cita-cita terakhir kesampaian suatu hari nanti...


 CITA-CITAKU SEKARANG

Aku pengen jadi wirausahawati,
Usaha jualan Jamu Kebon Agung,
Punya banyak franchise di mana-mana,

Semoga terkabul, Amiiin....

^_^

Wednesday, May 1, 2013

May Day

Happy May Day.....!!!

I'm so happy for all labor in the world, because May Day is their open opportunity to fight for their right. After their working time for one year, May day is just like their holiday, "special holiday". I really appreciate the labor's work, without them, there is no invention and progress in our world.
 
source : http://mayday2013funphotos.com

But....
I really hope that there is no anarchism in their action when they do a May Day celebration. A harm that they caused because of their anarchy will make us lost more. Many public facility damaged, and government have to pay more for those damaged. I hope all labor have same opinion with me.. ^_^

First May inaugurated as May Day on 1886 (www.wikipedia.co.id), based on  Federation of Organized Trades and Labor Unions. They held a congress and decided to give 8 hours for the work time and fulfill other labor's right (even until now, many companies did not pay their duty yet). Federation of Organized Trades and Labor Unions choose First day in May as a May Day because they inspired by a successful walkout actions in Canada on 1872.

The first move of labor had been led by Peter McGuire and Matthew Maguire (labor from New Jersey) on 1872. They held a walkout with more than 100.000 labors to insist the reducing of their work time ( at that time, they had to work from 19 until 20 hours per day T_T ). After many years, finally world admitted the labor's struggle. And finally, tadaa.... May Day was born.

I hope, before the labor in Indonesia do an action for celebrating this May Day, they have read the  history of May Day first. So that, they can imagine and understand the real meaning of May Day first. It hey already understand it, I believe there is no anarchism on their long-march.


 Dear all labor in the world,

I hope you won't do any anarchism
I hope you won't forget about the smile of your family in home
I hope you already fulfill your responsibility first before you ask your right
I hope you won't forget the real meaning of May Day
I hope you won't provoked by any political issue

I hope all your wishes come true.....

Happy May Day...

by : dipu

My First...

First, it's a beginning of anything. My first diary, my first love, my first research, and now, for me, it's my first blog that has been take care carefully.. kkk..

Previously, I had many blogs before, but just a blog, without any care and I didn't write anything in those blogs. Maybe because I didn't have a time to be a good blogger ( :-0 ) , or maybe because I was to lazy to write something, but it doesn't matter now, as long as I have my will power to improve my self in writing.

Now, I want to write any "first" in my life... Let's check it out... :-)

  • My First Love 
It's so cute when I remember how I fell in love with a boy, not man, but a boy...!! kkk...
source : http://swatantraa.files.wordpress.com/2013/01/493237.jpg
 We met for the first time in my grandma's house. I had my holiday, and he was my neighbor. I met him, and I though I liked him. He was a drummer of a band, not big band, only a school band. I didn't know why at that time, I was thinking that he is so cool, good boy, and handsome (of-course, if not, is there any way for me to like him). But after I knew him more, I realized that he was not a good boy. We broke up. After that tragedy, I realized that I can't trust a boy anymore. Just have a fun relationship, don't expect more for this kind of relationship, and move on after you broke up. kkk...

  • My First Diary
I like writing since I was in kindergarten. I like to write a poem, write a short story, and write my experience. I know a Diary in my 6th class of elementary school. Diary with a princess picture in the cover. 
source : http://25.media.tumblr.com/tumblr_ls7095kkiU1qhqibno1_500.jpg
At that time, before the graduation, we had a habit to write our "CV" in the diary. We shared our diary, and then saved it for our memories ( I don't know where's this diary T_T ). I wrote all thing that happened in that diary. After my busy activity, I started to forget about my diary. And no other stories about diary. Now, I'm looking for a unique diary with a lock, but I can't find it. Maybe after I find this kind of diary, I'll write my diary again.

  • My First Korean Brothers
I like Korea very much. I like Korean drama, music, movie, actor/actress, singers, and even Korean style, kkk... Even now, I'm starting to study about Hangul (Korean Language). On my forth year in campus, I participated in ESC (Engineering Service Corps) Program. I met my Korean Brothers in this program. First, I was so nervous, "Would they like to work with me?", or "Could we get a long well?". Those questions wandered around in my mind. But... after I met them... They are very kind. They took care of me very well just like I'm their real sister, UNTIL NOW....

by : dipu
Jangwon Oppa, Byeongwoo Oppa, and Ungtak Oppa. How lucky I am to know them... I hope I can meet them in Korea again....!!! Miss you all, uri Oppa...!!!

I want to write more about my "first" thing in my life, but I have to work again. Busy... busy... busy... Maybe next time I'll continue with my other story.

Anyooooooong..........................