"Maafkan aku Sari. Aku tidak pernah menyangka kalau rasa sayangku padamu akan hilang dan berganti padanya". Satu kalimat yang bisa menghancurkan semua harapan indahku. Memberikanku rasa sakit yang tidak bisa aku tahan. Aku hanya terdiam, hanya air mata yang terurai sebagai pelampiasan rasa perih yang terlalu.
Malam minggu, seharusnya saat itu adalah waktu bagi aku dan dia untuk berbagi kasih. Tapi semuanya berubah. Dia lebih memilih Nina, sepupu jauhku. Dan aku tidak pernah menyangka dia akan tega mengatakan kalimat terkutuk kedua yang semakin hancur. Harapannya yang benar-benar menghancurkan semuanya.
"Aku tidak berani mengatakannya pada orang tua kita. Aku berniat untuk menikah dengan Nina. Jika aku yang membatalkan pertunangan kita, impianku akan pupus bersama Nina. Bisakah kau yang menyampaikannya?". Ya Tuhan, seperti inikah laki-laki yang selama ini aku cintai? Seperti inikah laki-laki yang nantinya akan kujadikan imam?
Tidak cukup dia mengkhianatiku, sekarang dia ingin aku menanggung semuanya sendiri, dipersalahkan atas hal yang tidak aku inginkan. Tangisku semakin kencang. Tangisku berubah dari tangis kepedihan atas pengkhianatan menjadi tangis marah karena kebodohanku. Betapa bodohnya aku karena telah mencintai laki-laki pengecut seperti dia. Ditengah amarah dan perih, ada sedikit rasa syukur yang terbersit. Untung aku mengetahuinya sekarang, bukan nanti ketika aku telah menjadi pendamping hidupnya.
"Tidak ada yang bisa aku katakan. Kamu yang memulai masalah ini, jadi harus kamu yang menyelesaikannya", ucapku tergetar sambil membukakan pintu rumah, menandakan aku menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku.
Perlahan dia beranjak dari sofa ruang tamuku. Dengan langkah lunglai dia pergi meninggalkan aku dalam tangis temaram. Sedikitpun dia tidak menoleh ke belakang. Namun sekilas aku melihat air mata turun di pelipih matanya. Aku tak tau apa arti dari air mata itu. Kebodohanku, aku berharap air mata itu adalah air mata penyesalan karena telah menyakiti orang yang dia kasih selama enam tahun terakhir.
Malam itu menjadi malam terakhir aku dan dia bersama sebagai seorang kekasih. Dia lebih memilih kekasih yang lain. Tak ada yang dapat aku lakukan. Aku tidak ingin menghancurkan harga diriku dengan mengemis cinta padanya. Harga diriku terlalu mahal jika dibandingkan dengan pertunangan yang sudah ternoda oleh pengkhianatan.
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Mas Nomo. Seperti biasa, ibu Mas Nomo menyambutku dengan peluk keramahan. Ketika melihat beliau, aku tidak tega untuk menyampaikan berita buruk ini. Tapi keras kepalaku menghilangkan naluriku. Aku harus menyampaikannya sekarang. Kalau aku tunda, semakin banyak ragu yang aku rasakan.
Senyum tulus di wajah senjanya berubah jadi tangis kekecewaan setelah aku sampaikan maksud kedatangannku ke rumah itu. Dengan alasan akan mencoba karir baru di ibu kota, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Mas Nomo. Tindakanku ini aku lakukan bukan karena aku masih mengharapkan belas kasihan dari Mas Nomo dengan mengikuti apa yang dia mau. Aku hanya tidak ingin dianggap sebagai sosok antagonis ketiga di antara hubungan kasihnya dengan Nina. Aku adalah tokoh utama dalam kisah hidupku sendiri, bukan hidup mereka. Ini lebih baik daripada dianggap orang sebagai wanita lemah karena telah dikhianati oleh calon suami dan sepupuku.
Di balik tirai ruang tamu, aku bisa melihat sosok Mas Nomo. Sosok itu tak lagi menarik bagiku. Sosok itu berubah menjadi banci yang tidak tahu malu.Sekarang, dia hanya akan menajadi kenangan buruk di buku kehidupanku.
Kualihkan pandanganku pada Ibu. Beliau masih menangis. Kupeluk dan kuusap airmatanya. Berat bagiku untuk menyakiti hati wanita tua ini. Dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Namun karena keegoisanku dan kebodohan Mas Nomo, kami membuatnya menangis. Sejenak aku berpikir, setelah aku keluar dari rumah ini nanti, apa masih bisa aku menampakkan wajahku di hadapan beliau. Aku akan menjadi terlalu malu untuk menatap mata Ibu.
Keberangkatanku ke ibu kota benar-benar menjadi tanda bagi keluargaku dan Mas Nomo bahwa pertunangan kami benar-benar berakhir. Saat di ibu kota nanti, aku ingin melupakan semuanya. Aku tidak akan peduli lagi dengan mereka. Aku hanya akan fokus meniti karirku.
Malam minggu, seharusnya saat itu adalah waktu bagi aku dan dia untuk berbagi kasih. Tapi semuanya berubah. Dia lebih memilih Nina, sepupu jauhku. Dan aku tidak pernah menyangka dia akan tega mengatakan kalimat terkutuk kedua yang semakin hancur. Harapannya yang benar-benar menghancurkan semuanya.
"Aku tidak berani mengatakannya pada orang tua kita. Aku berniat untuk menikah dengan Nina. Jika aku yang membatalkan pertunangan kita, impianku akan pupus bersama Nina. Bisakah kau yang menyampaikannya?". Ya Tuhan, seperti inikah laki-laki yang selama ini aku cintai? Seperti inikah laki-laki yang nantinya akan kujadikan imam?
Tidak cukup dia mengkhianatiku, sekarang dia ingin aku menanggung semuanya sendiri, dipersalahkan atas hal yang tidak aku inginkan. Tangisku semakin kencang. Tangisku berubah dari tangis kepedihan atas pengkhianatan menjadi tangis marah karena kebodohanku. Betapa bodohnya aku karena telah mencintai laki-laki pengecut seperti dia. Ditengah amarah dan perih, ada sedikit rasa syukur yang terbersit. Untung aku mengetahuinya sekarang, bukan nanti ketika aku telah menjadi pendamping hidupnya.
"Tidak ada yang bisa aku katakan. Kamu yang memulai masalah ini, jadi harus kamu yang menyelesaikannya", ucapku tergetar sambil membukakan pintu rumah, menandakan aku menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku.
Perlahan dia beranjak dari sofa ruang tamuku. Dengan langkah lunglai dia pergi meninggalkan aku dalam tangis temaram. Sedikitpun dia tidak menoleh ke belakang. Namun sekilas aku melihat air mata turun di pelipih matanya. Aku tak tau apa arti dari air mata itu. Kebodohanku, aku berharap air mata itu adalah air mata penyesalan karena telah menyakiti orang yang dia kasih selama enam tahun terakhir.
Malam itu menjadi malam terakhir aku dan dia bersama sebagai seorang kekasih. Dia lebih memilih kekasih yang lain. Tak ada yang dapat aku lakukan. Aku tidak ingin menghancurkan harga diriku dengan mengemis cinta padanya. Harga diriku terlalu mahal jika dibandingkan dengan pertunangan yang sudah ternoda oleh pengkhianatan.
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Mas Nomo. Seperti biasa, ibu Mas Nomo menyambutku dengan peluk keramahan. Ketika melihat beliau, aku tidak tega untuk menyampaikan berita buruk ini. Tapi keras kepalaku menghilangkan naluriku. Aku harus menyampaikannya sekarang. Kalau aku tunda, semakin banyak ragu yang aku rasakan.
Senyum tulus di wajah senjanya berubah jadi tangis kekecewaan setelah aku sampaikan maksud kedatangannku ke rumah itu. Dengan alasan akan mencoba karir baru di ibu kota, aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Mas Nomo. Tindakanku ini aku lakukan bukan karena aku masih mengharapkan belas kasihan dari Mas Nomo dengan mengikuti apa yang dia mau. Aku hanya tidak ingin dianggap sebagai sosok antagonis ketiga di antara hubungan kasihnya dengan Nina. Aku adalah tokoh utama dalam kisah hidupku sendiri, bukan hidup mereka. Ini lebih baik daripada dianggap orang sebagai wanita lemah karena telah dikhianati oleh calon suami dan sepupuku.
Di balik tirai ruang tamu, aku bisa melihat sosok Mas Nomo. Sosok itu tak lagi menarik bagiku. Sosok itu berubah menjadi banci yang tidak tahu malu.Sekarang, dia hanya akan menajadi kenangan buruk di buku kehidupanku.
Kualihkan pandanganku pada Ibu. Beliau masih menangis. Kupeluk dan kuusap airmatanya. Berat bagiku untuk menyakiti hati wanita tua ini. Dia sangat menyayangiku seperti anaknya sendiri. Namun karena keegoisanku dan kebodohan Mas Nomo, kami membuatnya menangis. Sejenak aku berpikir, setelah aku keluar dari rumah ini nanti, apa masih bisa aku menampakkan wajahku di hadapan beliau. Aku akan menjadi terlalu malu untuk menatap mata Ibu.
Keberangkatanku ke ibu kota benar-benar menjadi tanda bagi keluargaku dan Mas Nomo bahwa pertunangan kami benar-benar berakhir. Saat di ibu kota nanti, aku ingin melupakan semuanya. Aku tidak akan peduli lagi dengan mereka. Aku hanya akan fokus meniti karirku.
0 comments:
Post a Comment